Selasa, 04 Oktober 2011

Symbol












Simbol yang merepresentasikan saya adalah rambut berponi dan sisir. Mengapa?. Hal tersebut bukan berarti karena saya hobi berdandan. Pertama rambut berponi, selain memang itu gaya rambut saya tetapi hal itu juga menandakan bahwa saya adalah seorang perempuan karena mungkin tidak ada laki-laki yang berambut seperti ini. Sisir, fungsi utama sisir adalah merapikan dan menata, dan saya sangat suka merapikan rambut saya yang mudah berantakan. Begitu juga dengan kehidupan saya, saya akan dengan sangat hati-hati menata kehidupan saya agar tidak berantakan terlebih dalam mengatur jadwal kehidupan pribadi dengan tugas-tugas yang harus dikerjakan. Apabila memang sudah berantakan maka saya akan langsung berfikir bagaimana cara merapikannya. Bingkai pink, mengapa? Jelas karena pink adalah warna kedua favorit saya setelah merah.

Novi Handayani

Nama adalah sebuah symbol yang merepresentasikan seseorang. Yang bisa menjadi sebuah pembeda antara seseorang dengan yang lainnya. Coba bayangkan bila seluruh populasi dunia memiliki nama yang sama, lalu ketika kita memanggil nama tersebut semua orang akan mengarah pada kita dan menganggap kita memanggil mereka. Betapa pentingnya arti sebuah nama.
Sejak dahulu hingga sekarang nama saya belumlah berubah, “Novi Handayani”, walaupun dulu saat pertama lahir mereka memberi nama “Novi Anggraeni” tetapi langsung diubah karena dianggap arti handayani lebih baik. Pada saat saya berada di sekolah dasar dulu, saya selalu merasa nama saya tidak keren, terlalu simple dan kolot juga lumayan pasaran sehingga saya sering berkhayal untuk memiliki nama lain yang lebih keren.
Suatu saat saya bertanya kepada orang tua saya mengenai arti nama saya, dan ternyata yang memberikan saya nama adalah nenek dan kakek saya.Mereka memberi nama itu karena pertama, saya lahir pada bulan November lalu Handayani diambil dari semboyan tut wuri handayani yang berarti memberikan dorongan dari belakang sehingga diharapkan saya selalu memiliki motivasi yang besar dari dalam diri saya. Semenjak itu saya fikir nama saya bukanlah sesuatu yang buruk dan saya menjadi bangga memiliki nama tersebut. Pernah suatu saat saya iseng mencari nama saya di buku sejarah SMP. Saya temukan ada sebuah frasa “ homines novi” yang berarti orang-orang yang memiliki pendidikan/cendikia. Saya jadi semakin menghargai nama yang telah diberikan oleh nenek dan kakek saya.
Sesuatu yang telah diberikan Tuhan kepada kita, saya yakini pasti merupakan sesuatu yang memang pantas kita dapatkan. Begitu juga dengan nama, mengapa mesti merasa tidak pantas, hal itu pasti adalah sebuah kepantasan. Jadi, menurut saya nama saya sudah pantas untuk merepresentasikan diri saya. Kalaupun dilihat dari segi arti, itu pun cocok, entah darimana asalnya saya selalu memiliki dorongan yang berasal dari dalam diri saya untuk selalu bangkit setelah jatuh. Kadang saya fikir dengan motivasi internal yang besar, sisi idealisme saya juga cukup tinggi, terkadang disaat semua orang melakukan hal yang sama, saya akan bertahan dengan idealisme saya sendiri yang saya anggap benar.
Walaupun memungkinkan sepertinya saya tidak ingin mengganti nama saya karena saya fikir hal tersebut akan mengubah kehidupan saya. Menurut saya nama juga mempengaruhi karakter seseorang sehingga bila saya mengganti nama saya maka hal tersebut akan mempengaruhi karakter saya juga. Sehingga saya tidak akan menjadi diri saya yang dulu lagi tetapi berubah menjadi seseorang yang baru. Karena biasanya nama diberikan kepada bayi yang baru lahir sehingga seseorang yang mengganti namanya akan seperti bayi yang baru lahir. Dan saya tidak mau menjadi bayi yang sudah dewasa.