Selasa, 06 Desember 2011

Bagiku Tentang “Tuhan dan Agama”ku

Novi Handayani (2010110005)

Jika Durkhem mengatakan bahwa agama adalah segelintir aturan yang dibuat oleh masyarakat sehingga hakekatnya agama adalah suatu hal yang dinamis, namun bagi saya agama adalah paradoks dari apa yang dikatakan oleh Durkhem. Bagi saya agama adalah suatu aturan yang diberikan oleh Tuhan kepada seluruh lapisan masyarakat untuk dipatuhi dan dijalankan, menurut saya agama adalah suatu aturan yang statis dimana perkembangan dunialah yang harus selalu bisa menyeimbanginya. Agama selalu mengajarkan kebaikan kepada umatnya sehingga sudah sepatutnyalah setiap orang memilki agama, jika setiap orang berpegang teguh pada setiap ajaran agamanya maka dapat dipastikan dunia ini akan berjalan dengan selaras dan seimbang. Sebagai contoh, bila setiap umat Islam menunaikan zakat baik fitrah maupun maal maka masalah kesenjangan sosial dapat kita selesaikan. Namun saat tidak ada masalah maka sepertinya hidup ini tidak akan ada maknanya maka bersyukurlah dengan masalah kita dapat memperkuat keyakinan kita.
Di awal saya katakan bahwa agama merupakan aturan yang diberikan Tuhan maka secara praktis anda dapat melihat bahwa saya adalah seseorang yang mempercayai adanya Tuhan. Mengapa? Segala macam perabot rumah tangga diciptakan oleh manusia, saat manusia itu lahir, ia dilahirkan oleh ibunya dan ia berasal dari rahim ibunya, ibunya lahir dari ibunya dari ibunya hingga saat manusia pertama ada, maka layaknya manusia pertama diciptakan pula dan saya percayai bahwa Tuhanlah yang menciptakan manusia pertama berserta alam dan isinya. Lalu kaum pemikir berfikir siapa yang menciptakan Tuhan. Bagaimana saya menyikapinya, ada banyak pertanyaan yang manusia lontarkan untuk memuaskan nafsu keingintahuannya tetapi apakah pertanyaan itu sebenarnya bisa dijawab. Terkadang manusia hanya membuang-buang waktunya untuk mencari jawaban dari pertanyaan yang sebenarnya telah ia ketahui tidak dapat ia temukan jawabannya. Manusia memiliki keterbatasan untuk dapat menjabarkan hal-hal yang menurutnya tidak rasional.
Menurut hemat saya, kita harus memiliki batasan tersendiri sampai mana tahap keingintahuan kita berhenti, Tuhan dan agama merupakan masalah yang riskan untuk diperdebatkan. Berapa banyak orang yang menjadi atheis hanya karena ketidakpuasannya dalam mendeskripsikan Tuhan dan agama.
Lalu dari sudut pandang Karl Marx, agama adalah sebuah ilusi, suatu candu yang diperuntukkan untuk kaum miskin yang mendambakan kebahagiaan kelak. Setiap ajaran haruslah kita kritisi, Karl Marx hanya melihat sesuatu dari satu sisi, dia tidak memikirkan tentang berapa banyaknya pula orang miskin yang tetap tidak beragama, banyak pula orang miskin yang menjauhi agama karena menurutnya agama tidak membuat kehidupannya lebih baik dan menjadi kaya. Kemudian, berapa banyak orang kaya yang tekun beragama. Menurut saya Karl Marx adalah salah satu orang yang mendewakan ekonomi, ia berfikir ekonomilah yang membuatnya kaya dan bahagia bukan Tuhan apalagi agama, karena menurutnya Tuhan adalah sebuah khayalan dan sesuatu yang asing yang biasa disebut Tuhan.
Menurut ajaran yang saya percayai, Tuhan atau saya sebagai umat Islam menyerukan-Nya Allah SWT adalah ghaib, saya memercayai Tuhan yang saya miliki sebagai sesuatu yang ghaib. Lalu bagaimana saya merasakan kehadiran Tuhan yang ghaib, saya mungkin bukan seorang pemeluk agama yang sempurna bahkan fanatic tetapi saya memercayai Tuhan yang saya miliki dengan sebenar-benarnya. Tuhan selalu membantu umatnya yang selalu mau berusaha lalu berserah diri setelahnya, saya selalu percaya bahwa apa yang diberikan Tuhan adalah sesuatu yang terbaik. Saya pun percaya bahwa Tuhan selalu berbuat adil terhadap setiap mahluknya. Dulu, saat saya masih berada pada bangku sekolah, di saat hampir semua teman-teman saya memiliki kunci jawaban saat UN berlangsung, saya dengan percaya diri melakukan sendiri ujian dengan segenap usaha yang bisa saya lakukan, saya tidak merisaukan tentang bagaimana kalau teman saya yang menyontek mendapat nilai yang lebih besar dari saya padahal mereka sudah berbuat curang. Saya selalu berfikir Tuhan itu maha adil Ia selalu bersama umatnya yang jujur. Saat itu saya merasakan bahwasanya Tuhan memang ada dan adil karena terbukti nilai saya ternyata bisa jaul lebih baik dari teman saya yang memang pun sudah baik .
Contoh lainnya adalah Tuhan selalu memberikan hal terbaik kepada umatnya, kembali saya memberi contoh dari hidup saya. Setahun yang lalu saat saya baru lulus SMK saya sangat ingin masuk STAN untuk melanjutkan kemampuan akuntansi saya, tetapi takdir mengatakan bahwa saya harus masuk SSE. Di awal saya merasa sangat ragu dengan keputusan yang saya ambil, lalu hari demi hari saya mengucapkan syukur kepada Allah atas kesempatan yang telah diberikan-Nya, bahwa memang benar setiap takdir yang diberikan Tuhan adalah memang yang terbaik.
Beberapa contoh di atas hanyalah beberapa dari sekian banyak contoh kehidupan saya yang membuat saya memercayai Tuhan. Saya memercayai Tuhan dari pengalaman hidup yang telah saya tempuh. Tuhan selalu menemani setiap detik kehidupan umat-Nya, maka sudah sepantasnya manusia memercayai kehadiran-Nya dan menjalankan perintah-Nya.

Selasa, 01 November 2011

My Personal Identity among Others

This is about me and not about others. I just think that there are so many wrong perceptions about me. I want to tell a bit about my past. In the past, when I was in elementary school, I was an active children, I was very like to mingle with others, cycling every weeks with my friends is my hobby, I didn’t like to stayed at home at that time, that’s why my father said that he was rarely to see me studied and my neighbor said that I was a stupid children. I’m the only child in my family, that’s why other people always said that I’m a spoiled person (I don’t know is it right if I use spoiled to translate “manja” in English but that’s what I mean). Actually, sometimes it is right and sometimes it is wrong, I just think that in fact, everyone have this character, that’s just about how often you show it. Other people always said that everything that I want is always bought by my father but actually that’s wrong, my mother always teach to me from I was 6 year to save my money if I want to buy something, so I buy with my saving.
When I was in senior high school, my family business went bankrupt, my mother sold all her jewelry and we move to a much more modest home. I don’t know why maybe I also just realized know that, when it happened my character was changing. I remembered that when I was in elementary school I do really love singing and dancing but after that moment I become an introvert person, I was really introvert person at that time even my friends called me nerd but in good case . But, when I was in vocational high school little by little I become friendlier until now I always trying to understand others. Many of my friends said that he/she doesn’t like me in first time, like Pa Hatim said when you think that someone is a bad person, it’s only because you didn’t know he/she well, it also happen with me.
I’m a Moslem, now I see many of my friends using scarf, maybe I’m the little one who not using it yet. Without using scarf my friends always know that I’m a Moslem. When you don’t use scarf yet it doesn’t mean that you are not Moslem, right? I don’t want to only use scarf because my friends use it. I prefer to repair my heart first before I repair my appearance. I’m a Moslem then I pray in mosque, I try to help other people, and other. That’s my choice to show that I’m a Moslem. I never said to my friend to do like me, because in my mindset religion is the most fundamental rights for a human so I think I must appreciate to all of my friends decision for their life, so do I, I want all of my friends appreciate with my decision.
How about my ethnic? My mother is Javanese and my father is a Javanese actually but born and grow in Medan so I can conclude that I am Javanese but I was born and grow in Jakarta. Sometime I was confused when someone asked about my ethnic because many of us use patrialisme so it depends on our father ethnic but my father is confused to, so I’m to be very confused. Actually, many people said that I’m Javanese because of my face and my behaviorism. Now, many of my friends is Javanese, I can see if he/she Javanese only from their accent. When first I listen I want to laugh but I don’t want to make him/her uncomfortable with it just wait the time until me usual to hear it.
I’m a college students but many of my neighbor said that I was working because I went at 5.30 and back to home about 9-10.30 pm so, they think that it’s not usual to study until like that. I just reflect if many of my neighbors don’t really care about education but I really like to study. That’s why I don’t have friends in my home because I don’t have time to mingle at home. I just play with my little friends who live next door with me. I only think that maybe they don’t really care about education because they have big house actually so they only think about how to produce money but I don’t want to b like that. I really say thankful to my parents because they always give big effort for my education, that’s why I want to give the best that I can do to them.
Actually there are so many thing that I want to write but it will be very long to read. That’s only the big issue of my life.. Thank you

Selasa, 04 Oktober 2011

Symbol












Simbol yang merepresentasikan saya adalah rambut berponi dan sisir. Mengapa?. Hal tersebut bukan berarti karena saya hobi berdandan. Pertama rambut berponi, selain memang itu gaya rambut saya tetapi hal itu juga menandakan bahwa saya adalah seorang perempuan karena mungkin tidak ada laki-laki yang berambut seperti ini. Sisir, fungsi utama sisir adalah merapikan dan menata, dan saya sangat suka merapikan rambut saya yang mudah berantakan. Begitu juga dengan kehidupan saya, saya akan dengan sangat hati-hati menata kehidupan saya agar tidak berantakan terlebih dalam mengatur jadwal kehidupan pribadi dengan tugas-tugas yang harus dikerjakan. Apabila memang sudah berantakan maka saya akan langsung berfikir bagaimana cara merapikannya. Bingkai pink, mengapa? Jelas karena pink adalah warna kedua favorit saya setelah merah.

Novi Handayani

Nama adalah sebuah symbol yang merepresentasikan seseorang. Yang bisa menjadi sebuah pembeda antara seseorang dengan yang lainnya. Coba bayangkan bila seluruh populasi dunia memiliki nama yang sama, lalu ketika kita memanggil nama tersebut semua orang akan mengarah pada kita dan menganggap kita memanggil mereka. Betapa pentingnya arti sebuah nama.
Sejak dahulu hingga sekarang nama saya belumlah berubah, “Novi Handayani”, walaupun dulu saat pertama lahir mereka memberi nama “Novi Anggraeni” tetapi langsung diubah karena dianggap arti handayani lebih baik. Pada saat saya berada di sekolah dasar dulu, saya selalu merasa nama saya tidak keren, terlalu simple dan kolot juga lumayan pasaran sehingga saya sering berkhayal untuk memiliki nama lain yang lebih keren.
Suatu saat saya bertanya kepada orang tua saya mengenai arti nama saya, dan ternyata yang memberikan saya nama adalah nenek dan kakek saya.Mereka memberi nama itu karena pertama, saya lahir pada bulan November lalu Handayani diambil dari semboyan tut wuri handayani yang berarti memberikan dorongan dari belakang sehingga diharapkan saya selalu memiliki motivasi yang besar dari dalam diri saya. Semenjak itu saya fikir nama saya bukanlah sesuatu yang buruk dan saya menjadi bangga memiliki nama tersebut. Pernah suatu saat saya iseng mencari nama saya di buku sejarah SMP. Saya temukan ada sebuah frasa “ homines novi” yang berarti orang-orang yang memiliki pendidikan/cendikia. Saya jadi semakin menghargai nama yang telah diberikan oleh nenek dan kakek saya.
Sesuatu yang telah diberikan Tuhan kepada kita, saya yakini pasti merupakan sesuatu yang memang pantas kita dapatkan. Begitu juga dengan nama, mengapa mesti merasa tidak pantas, hal itu pasti adalah sebuah kepantasan. Jadi, menurut saya nama saya sudah pantas untuk merepresentasikan diri saya. Kalaupun dilihat dari segi arti, itu pun cocok, entah darimana asalnya saya selalu memiliki dorongan yang berasal dari dalam diri saya untuk selalu bangkit setelah jatuh. Kadang saya fikir dengan motivasi internal yang besar, sisi idealisme saya juga cukup tinggi, terkadang disaat semua orang melakukan hal yang sama, saya akan bertahan dengan idealisme saya sendiri yang saya anggap benar.
Walaupun memungkinkan sepertinya saya tidak ingin mengganti nama saya karena saya fikir hal tersebut akan mengubah kehidupan saya. Menurut saya nama juga mempengaruhi karakter seseorang sehingga bila saya mengganti nama saya maka hal tersebut akan mempengaruhi karakter saya juga. Sehingga saya tidak akan menjadi diri saya yang dulu lagi tetapi berubah menjadi seseorang yang baru. Karena biasanya nama diberikan kepada bayi yang baru lahir sehingga seseorang yang mengganti namanya akan seperti bayi yang baru lahir. Dan saya tidak mau menjadi bayi yang sudah dewasa.

Senin, 26 September 2011

Student Expectation and Response Toward Others



Humanistic study. When I see this course name in KAK, directly my mind asked what the course about. Is it about humanity or something else? Obviously, when it first meeting last Wednesday we have known if this course much discussed about individualism, multiculturalism, and religion.
From that background my expectation for this course are can be more understand to other individual and the important is to understand myself. Then I can more appreciate the differences which happen around because difference makes us rich. With more understanding about multiculturalism I hope in the future I can appreciate the differences which happen in my class and my environment so I can be fair to all students and more understanding their characteristic which is certainly influenced by their cultural background. Therefore, because we will discussed about religion I hope each of us can be more carefully when we express our opinion so, no one would be offended. And I hope this course can be fun, give much knowledge and make us more as one family.
Talking about multiculturalism, we don’t have to go far away, in SSE the students consist of various ethnic groups such as Javanese, Sundanese, Batak, Balinese, and so on. I remember when I have registration as a new student in SSE I went to mosque to praying then, I saw a group of sundanese student was talking with their own language. I was very confused, I felt like I was listening sundanese radio. I think it’s more appropriate if in public space like mosque all students use Indonesian language so no one will feel ignored and confused. When I was in junior High School my teachers who are from Batak ethics always use their language if they want to speak that they don’t want to other to know because in my school there is a gap between Muslim teacher and Batak teacher. So, I don’t want this condition happen in SSE.
The difference is beautiful because we can learn to understand other people. When first I have friends from Sumatera I shocked with their hard intonation. Firstly I think he/she was angry to me but then I remember if the stereotype about Sumatera people is have loud voice but in fact he/she just normally speak. After we know each other, sometimes I think if all prejudice of an ethnic is only stereotype because it is different, depend on their own personality for example people said if all padang people is stingy, all Javanese people is pleonastic but it just a stereotype in SSE. In fact, we are one big family and caring about each other. I hope this condition always like this. So, as student that comes from many ethnics the key I think is appreciate each other and understanding all people if we want all people understand us.