Novi Handayani (2010110005)
Jika Durkhem mengatakan bahwa agama adalah segelintir aturan yang dibuat oleh masyarakat sehingga hakekatnya agama adalah suatu hal yang dinamis, namun bagi saya agama adalah paradoks dari apa yang dikatakan oleh Durkhem. Bagi saya agama adalah suatu aturan yang diberikan oleh Tuhan kepada seluruh lapisan masyarakat untuk dipatuhi dan dijalankan, menurut saya agama adalah suatu aturan yang statis dimana perkembangan dunialah yang harus selalu bisa menyeimbanginya. Agama selalu mengajarkan kebaikan kepada umatnya sehingga sudah sepatutnyalah setiap orang memilki agama, jika setiap orang berpegang teguh pada setiap ajaran agamanya maka dapat dipastikan dunia ini akan berjalan dengan selaras dan seimbang. Sebagai contoh, bila setiap umat Islam menunaikan zakat baik fitrah maupun maal maka masalah kesenjangan sosial dapat kita selesaikan. Namun saat tidak ada masalah maka sepertinya hidup ini tidak akan ada maknanya maka bersyukurlah dengan masalah kita dapat memperkuat keyakinan kita.
Di awal saya katakan bahwa agama merupakan aturan yang diberikan Tuhan maka secara praktis anda dapat melihat bahwa saya adalah seseorang yang mempercayai adanya Tuhan. Mengapa? Segala macam perabot rumah tangga diciptakan oleh manusia, saat manusia itu lahir, ia dilahirkan oleh ibunya dan ia berasal dari rahim ibunya, ibunya lahir dari ibunya dari ibunya hingga saat manusia pertama ada, maka layaknya manusia pertama diciptakan pula dan saya percayai bahwa Tuhanlah yang menciptakan manusia pertama berserta alam dan isinya. Lalu kaum pemikir berfikir siapa yang menciptakan Tuhan. Bagaimana saya menyikapinya, ada banyak pertanyaan yang manusia lontarkan untuk memuaskan nafsu keingintahuannya tetapi apakah pertanyaan itu sebenarnya bisa dijawab. Terkadang manusia hanya membuang-buang waktunya untuk mencari jawaban dari pertanyaan yang sebenarnya telah ia ketahui tidak dapat ia temukan jawabannya. Manusia memiliki keterbatasan untuk dapat menjabarkan hal-hal yang menurutnya tidak rasional.
Menurut hemat saya, kita harus memiliki batasan tersendiri sampai mana tahap keingintahuan kita berhenti, Tuhan dan agama merupakan masalah yang riskan untuk diperdebatkan. Berapa banyak orang yang menjadi atheis hanya karena ketidakpuasannya dalam mendeskripsikan Tuhan dan agama.
Lalu dari sudut pandang Karl Marx, agama adalah sebuah ilusi, suatu candu yang diperuntukkan untuk kaum miskin yang mendambakan kebahagiaan kelak. Setiap ajaran haruslah kita kritisi, Karl Marx hanya melihat sesuatu dari satu sisi, dia tidak memikirkan tentang berapa banyaknya pula orang miskin yang tetap tidak beragama, banyak pula orang miskin yang menjauhi agama karena menurutnya agama tidak membuat kehidupannya lebih baik dan menjadi kaya. Kemudian, berapa banyak orang kaya yang tekun beragama. Menurut saya Karl Marx adalah salah satu orang yang mendewakan ekonomi, ia berfikir ekonomilah yang membuatnya kaya dan bahagia bukan Tuhan apalagi agama, karena menurutnya Tuhan adalah sebuah khayalan dan sesuatu yang asing yang biasa disebut Tuhan.
Menurut ajaran yang saya percayai, Tuhan atau saya sebagai umat Islam menyerukan-Nya Allah SWT adalah ghaib, saya memercayai Tuhan yang saya miliki sebagai sesuatu yang ghaib. Lalu bagaimana saya merasakan kehadiran Tuhan yang ghaib, saya mungkin bukan seorang pemeluk agama yang sempurna bahkan fanatic tetapi saya memercayai Tuhan yang saya miliki dengan sebenar-benarnya. Tuhan selalu membantu umatnya yang selalu mau berusaha lalu berserah diri setelahnya, saya selalu percaya bahwa apa yang diberikan Tuhan adalah sesuatu yang terbaik. Saya pun percaya bahwa Tuhan selalu berbuat adil terhadap setiap mahluknya. Dulu, saat saya masih berada pada bangku sekolah, di saat hampir semua teman-teman saya memiliki kunci jawaban saat UN berlangsung, saya dengan percaya diri melakukan sendiri ujian dengan segenap usaha yang bisa saya lakukan, saya tidak merisaukan tentang bagaimana kalau teman saya yang menyontek mendapat nilai yang lebih besar dari saya padahal mereka sudah berbuat curang. Saya selalu berfikir Tuhan itu maha adil Ia selalu bersama umatnya yang jujur. Saat itu saya merasakan bahwasanya Tuhan memang ada dan adil karena terbukti nilai saya ternyata bisa jaul lebih baik dari teman saya yang memang pun sudah baik .
Contoh lainnya adalah Tuhan selalu memberikan hal terbaik kepada umatnya, kembali saya memberi contoh dari hidup saya. Setahun yang lalu saat saya baru lulus SMK saya sangat ingin masuk STAN untuk melanjutkan kemampuan akuntansi saya, tetapi takdir mengatakan bahwa saya harus masuk SSE. Di awal saya merasa sangat ragu dengan keputusan yang saya ambil, lalu hari demi hari saya mengucapkan syukur kepada Allah atas kesempatan yang telah diberikan-Nya, bahwa memang benar setiap takdir yang diberikan Tuhan adalah memang yang terbaik.
Beberapa contoh di atas hanyalah beberapa dari sekian banyak contoh kehidupan saya yang membuat saya memercayai Tuhan. Saya memercayai Tuhan dari pengalaman hidup yang telah saya tempuh. Tuhan selalu menemani setiap detik kehidupan umat-Nya, maka sudah sepantasnya manusia memercayai kehadiran-Nya dan menjalankan perintah-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar