Novi Handayani (2010110005)
Jika Durkhem mengatakan bahwa agama adalah segelintir aturan yang dibuat oleh masyarakat sehingga hakekatnya agama adalah suatu hal yang dinamis, namun bagi saya agama adalah paradoks dari apa yang dikatakan oleh Durkhem. Bagi saya agama adalah suatu aturan yang diberikan oleh Tuhan kepada seluruh lapisan masyarakat untuk dipatuhi dan dijalankan, menurut saya agama adalah suatu aturan yang statis dimana perkembangan dunialah yang harus selalu bisa menyeimbanginya. Agama selalu mengajarkan kebaikan kepada umatnya sehingga sudah sepatutnyalah setiap orang memilki agama, jika setiap orang berpegang teguh pada setiap ajaran agamanya maka dapat dipastikan dunia ini akan berjalan dengan selaras dan seimbang. Sebagai contoh, bila setiap umat Islam menunaikan zakat baik fitrah maupun maal maka masalah kesenjangan sosial dapat kita selesaikan. Namun saat tidak ada masalah maka sepertinya hidup ini tidak akan ada maknanya maka bersyukurlah dengan masalah kita dapat memperkuat keyakinan kita.
Di awal saya katakan bahwa agama merupakan aturan yang diberikan Tuhan maka secara praktis anda dapat melihat bahwa saya adalah seseorang yang mempercayai adanya Tuhan. Mengapa? Segala macam perabot rumah tangga diciptakan oleh manusia, saat manusia itu lahir, ia dilahirkan oleh ibunya dan ia berasal dari rahim ibunya, ibunya lahir dari ibunya dari ibunya hingga saat manusia pertama ada, maka layaknya manusia pertama diciptakan pula dan saya percayai bahwa Tuhanlah yang menciptakan manusia pertama berserta alam dan isinya. Lalu kaum pemikir berfikir siapa yang menciptakan Tuhan. Bagaimana saya menyikapinya, ada banyak pertanyaan yang manusia lontarkan untuk memuaskan nafsu keingintahuannya tetapi apakah pertanyaan itu sebenarnya bisa dijawab. Terkadang manusia hanya membuang-buang waktunya untuk mencari jawaban dari pertanyaan yang sebenarnya telah ia ketahui tidak dapat ia temukan jawabannya. Manusia memiliki keterbatasan untuk dapat menjabarkan hal-hal yang menurutnya tidak rasional.
Menurut hemat saya, kita harus memiliki batasan tersendiri sampai mana tahap keingintahuan kita berhenti, Tuhan dan agama merupakan masalah yang riskan untuk diperdebatkan. Berapa banyak orang yang menjadi atheis hanya karena ketidakpuasannya dalam mendeskripsikan Tuhan dan agama.
Lalu dari sudut pandang Karl Marx, agama adalah sebuah ilusi, suatu candu yang diperuntukkan untuk kaum miskin yang mendambakan kebahagiaan kelak. Setiap ajaran haruslah kita kritisi, Karl Marx hanya melihat sesuatu dari satu sisi, dia tidak memikirkan tentang berapa banyaknya pula orang miskin yang tetap tidak beragama, banyak pula orang miskin yang menjauhi agama karena menurutnya agama tidak membuat kehidupannya lebih baik dan menjadi kaya. Kemudian, berapa banyak orang kaya yang tekun beragama. Menurut saya Karl Marx adalah salah satu orang yang mendewakan ekonomi, ia berfikir ekonomilah yang membuatnya kaya dan bahagia bukan Tuhan apalagi agama, karena menurutnya Tuhan adalah sebuah khayalan dan sesuatu yang asing yang biasa disebut Tuhan.
Menurut ajaran yang saya percayai, Tuhan atau saya sebagai umat Islam menyerukan-Nya Allah SWT adalah ghaib, saya memercayai Tuhan yang saya miliki sebagai sesuatu yang ghaib. Lalu bagaimana saya merasakan kehadiran Tuhan yang ghaib, saya mungkin bukan seorang pemeluk agama yang sempurna bahkan fanatic tetapi saya memercayai Tuhan yang saya miliki dengan sebenar-benarnya. Tuhan selalu membantu umatnya yang selalu mau berusaha lalu berserah diri setelahnya, saya selalu percaya bahwa apa yang diberikan Tuhan adalah sesuatu yang terbaik. Saya pun percaya bahwa Tuhan selalu berbuat adil terhadap setiap mahluknya. Dulu, saat saya masih berada pada bangku sekolah, di saat hampir semua teman-teman saya memiliki kunci jawaban saat UN berlangsung, saya dengan percaya diri melakukan sendiri ujian dengan segenap usaha yang bisa saya lakukan, saya tidak merisaukan tentang bagaimana kalau teman saya yang menyontek mendapat nilai yang lebih besar dari saya padahal mereka sudah berbuat curang. Saya selalu berfikir Tuhan itu maha adil Ia selalu bersama umatnya yang jujur. Saat itu saya merasakan bahwasanya Tuhan memang ada dan adil karena terbukti nilai saya ternyata bisa jaul lebih baik dari teman saya yang memang pun sudah baik .
Contoh lainnya adalah Tuhan selalu memberikan hal terbaik kepada umatnya, kembali saya memberi contoh dari hidup saya. Setahun yang lalu saat saya baru lulus SMK saya sangat ingin masuk STAN untuk melanjutkan kemampuan akuntansi saya, tetapi takdir mengatakan bahwa saya harus masuk SSE. Di awal saya merasa sangat ragu dengan keputusan yang saya ambil, lalu hari demi hari saya mengucapkan syukur kepada Allah atas kesempatan yang telah diberikan-Nya, bahwa memang benar setiap takdir yang diberikan Tuhan adalah memang yang terbaik.
Beberapa contoh di atas hanyalah beberapa dari sekian banyak contoh kehidupan saya yang membuat saya memercayai Tuhan. Saya memercayai Tuhan dari pengalaman hidup yang telah saya tempuh. Tuhan selalu menemani setiap detik kehidupan umat-Nya, maka sudah sepantasnya manusia memercayai kehadiran-Nya dan menjalankan perintah-Nya.
Water Winter
Afterglow
Selasa, 06 Desember 2011
Selasa, 01 November 2011
My Personal Identity among Others
This is about me and not about others. I just think that there are so many wrong perceptions about me. I want to tell a bit about my past. In the past, when I was in elementary school, I was an active children, I was very like to mingle with others, cycling every weeks with my friends is my hobby, I didn’t like to stayed at home at that time, that’s why my father said that he was rarely to see me studied and my neighbor said that I was a stupid children. I’m the only child in my family, that’s why other people always said that I’m a spoiled person (I don’t know is it right if I use spoiled to translate “manja” in English but that’s what I mean). Actually, sometimes it is right and sometimes it is wrong, I just think that in fact, everyone have this character, that’s just about how often you show it. Other people always said that everything that I want is always bought by my father but actually that’s wrong, my mother always teach to me from I was 6 year to save my money if I want to buy something, so I buy with my saving.
When I was in senior high school, my family business went bankrupt, my mother sold all her jewelry and we move to a much more modest home. I don’t know why maybe I also just realized know that, when it happened my character was changing. I remembered that when I was in elementary school I do really love singing and dancing but after that moment I become an introvert person, I was really introvert person at that time even my friends called me nerd but in good case . But, when I was in vocational high school little by little I become friendlier until now I always trying to understand others. Many of my friends said that he/she doesn’t like me in first time, like Pa Hatim said when you think that someone is a bad person, it’s only because you didn’t know he/she well, it also happen with me.
I’m a Moslem, now I see many of my friends using scarf, maybe I’m the little one who not using it yet. Without using scarf my friends always know that I’m a Moslem. When you don’t use scarf yet it doesn’t mean that you are not Moslem, right? I don’t want to only use scarf because my friends use it. I prefer to repair my heart first before I repair my appearance. I’m a Moslem then I pray in mosque, I try to help other people, and other. That’s my choice to show that I’m a Moslem. I never said to my friend to do like me, because in my mindset religion is the most fundamental rights for a human so I think I must appreciate to all of my friends decision for their life, so do I, I want all of my friends appreciate with my decision.
How about my ethnic? My mother is Javanese and my father is a Javanese actually but born and grow in Medan so I can conclude that I am Javanese but I was born and grow in Jakarta. Sometime I was confused when someone asked about my ethnic because many of us use patrialisme so it depends on our father ethnic but my father is confused to, so I’m to be very confused. Actually, many people said that I’m Javanese because of my face and my behaviorism. Now, many of my friends is Javanese, I can see if he/she Javanese only from their accent. When first I listen I want to laugh but I don’t want to make him/her uncomfortable with it just wait the time until me usual to hear it.
I’m a college students but many of my neighbor said that I was working because I went at 5.30 and back to home about 9-10.30 pm so, they think that it’s not usual to study until like that. I just reflect if many of my neighbors don’t really care about education but I really like to study. That’s why I don’t have friends in my home because I don’t have time to mingle at home. I just play with my little friends who live next door with me. I only think that maybe they don’t really care about education because they have big house actually so they only think about how to produce money but I don’t want to b like that. I really say thankful to my parents because they always give big effort for my education, that’s why I want to give the best that I can do to them.
Actually there are so many thing that I want to write but it will be very long to read. That’s only the big issue of my life.. Thank you
When I was in senior high school, my family business went bankrupt, my mother sold all her jewelry and we move to a much more modest home. I don’t know why maybe I also just realized know that, when it happened my character was changing. I remembered that when I was in elementary school I do really love singing and dancing but after that moment I become an introvert person, I was really introvert person at that time even my friends called me nerd but in good case . But, when I was in vocational high school little by little I become friendlier until now I always trying to understand others. Many of my friends said that he/she doesn’t like me in first time, like Pa Hatim said when you think that someone is a bad person, it’s only because you didn’t know he/she well, it also happen with me.
I’m a Moslem, now I see many of my friends using scarf, maybe I’m the little one who not using it yet. Without using scarf my friends always know that I’m a Moslem. When you don’t use scarf yet it doesn’t mean that you are not Moslem, right? I don’t want to only use scarf because my friends use it. I prefer to repair my heart first before I repair my appearance. I’m a Moslem then I pray in mosque, I try to help other people, and other. That’s my choice to show that I’m a Moslem. I never said to my friend to do like me, because in my mindset religion is the most fundamental rights for a human so I think I must appreciate to all of my friends decision for their life, so do I, I want all of my friends appreciate with my decision.
How about my ethnic? My mother is Javanese and my father is a Javanese actually but born and grow in Medan so I can conclude that I am Javanese but I was born and grow in Jakarta. Sometime I was confused when someone asked about my ethnic because many of us use patrialisme so it depends on our father ethnic but my father is confused to, so I’m to be very confused. Actually, many people said that I’m Javanese because of my face and my behaviorism. Now, many of my friends is Javanese, I can see if he/she Javanese only from their accent. When first I listen I want to laugh but I don’t want to make him/her uncomfortable with it just wait the time until me usual to hear it.
I’m a college students but many of my neighbor said that I was working because I went at 5.30 and back to home about 9-10.30 pm so, they think that it’s not usual to study until like that. I just reflect if many of my neighbors don’t really care about education but I really like to study. That’s why I don’t have friends in my home because I don’t have time to mingle at home. I just play with my little friends who live next door with me. I only think that maybe they don’t really care about education because they have big house actually so they only think about how to produce money but I don’t want to b like that. I really say thankful to my parents because they always give big effort for my education, that’s why I want to give the best that I can do to them.
Actually there are so many thing that I want to write but it will be very long to read. That’s only the big issue of my life.. Thank you
Selasa, 04 Oktober 2011
Symbol

Simbol yang merepresentasikan saya adalah rambut berponi dan sisir. Mengapa?. Hal tersebut bukan berarti karena saya hobi berdandan. Pertama rambut berponi, selain memang itu gaya rambut saya tetapi hal itu juga menandakan bahwa saya adalah seorang perempuan karena mungkin tidak ada laki-laki yang berambut seperti ini. Sisir, fungsi utama sisir adalah merapikan dan menata, dan saya sangat suka merapikan rambut saya yang mudah berantakan. Begitu juga dengan kehidupan saya, saya akan dengan sangat hati-hati menata kehidupan saya agar tidak berantakan terlebih dalam mengatur jadwal kehidupan pribadi dengan tugas-tugas yang harus dikerjakan. Apabila memang sudah berantakan maka saya akan langsung berfikir bagaimana cara merapikannya. Bingkai pink, mengapa? Jelas karena pink adalah warna kedua favorit saya setelah merah.
Novi Handayani
Nama adalah sebuah symbol yang merepresentasikan seseorang. Yang bisa menjadi sebuah pembeda antara seseorang dengan yang lainnya. Coba bayangkan bila seluruh populasi dunia memiliki nama yang sama, lalu ketika kita memanggil nama tersebut semua orang akan mengarah pada kita dan menganggap kita memanggil mereka. Betapa pentingnya arti sebuah nama.
Sejak dahulu hingga sekarang nama saya belumlah berubah, “Novi Handayani”, walaupun dulu saat pertama lahir mereka memberi nama “Novi Anggraeni” tetapi langsung diubah karena dianggap arti handayani lebih baik. Pada saat saya berada di sekolah dasar dulu, saya selalu merasa nama saya tidak keren, terlalu simple dan kolot juga lumayan pasaran sehingga saya sering berkhayal untuk memiliki nama lain yang lebih keren.
Suatu saat saya bertanya kepada orang tua saya mengenai arti nama saya, dan ternyata yang memberikan saya nama adalah nenek dan kakek saya.Mereka memberi nama itu karena pertama, saya lahir pada bulan November lalu Handayani diambil dari semboyan tut wuri handayani yang berarti memberikan dorongan dari belakang sehingga diharapkan saya selalu memiliki motivasi yang besar dari dalam diri saya. Semenjak itu saya fikir nama saya bukanlah sesuatu yang buruk dan saya menjadi bangga memiliki nama tersebut. Pernah suatu saat saya iseng mencari nama saya di buku sejarah SMP. Saya temukan ada sebuah frasa “ homines novi” yang berarti orang-orang yang memiliki pendidikan/cendikia. Saya jadi semakin menghargai nama yang telah diberikan oleh nenek dan kakek saya.
Sesuatu yang telah diberikan Tuhan kepada kita, saya yakini pasti merupakan sesuatu yang memang pantas kita dapatkan. Begitu juga dengan nama, mengapa mesti merasa tidak pantas, hal itu pasti adalah sebuah kepantasan. Jadi, menurut saya nama saya sudah pantas untuk merepresentasikan diri saya. Kalaupun dilihat dari segi arti, itu pun cocok, entah darimana asalnya saya selalu memiliki dorongan yang berasal dari dalam diri saya untuk selalu bangkit setelah jatuh. Kadang saya fikir dengan motivasi internal yang besar, sisi idealisme saya juga cukup tinggi, terkadang disaat semua orang melakukan hal yang sama, saya akan bertahan dengan idealisme saya sendiri yang saya anggap benar.
Walaupun memungkinkan sepertinya saya tidak ingin mengganti nama saya karena saya fikir hal tersebut akan mengubah kehidupan saya. Menurut saya nama juga mempengaruhi karakter seseorang sehingga bila saya mengganti nama saya maka hal tersebut akan mempengaruhi karakter saya juga. Sehingga saya tidak akan menjadi diri saya yang dulu lagi tetapi berubah menjadi seseorang yang baru. Karena biasanya nama diberikan kepada bayi yang baru lahir sehingga seseorang yang mengganti namanya akan seperti bayi yang baru lahir. Dan saya tidak mau menjadi bayi yang sudah dewasa.
Sejak dahulu hingga sekarang nama saya belumlah berubah, “Novi Handayani”, walaupun dulu saat pertama lahir mereka memberi nama “Novi Anggraeni” tetapi langsung diubah karena dianggap arti handayani lebih baik. Pada saat saya berada di sekolah dasar dulu, saya selalu merasa nama saya tidak keren, terlalu simple dan kolot juga lumayan pasaran sehingga saya sering berkhayal untuk memiliki nama lain yang lebih keren.
Suatu saat saya bertanya kepada orang tua saya mengenai arti nama saya, dan ternyata yang memberikan saya nama adalah nenek dan kakek saya.Mereka memberi nama itu karena pertama, saya lahir pada bulan November lalu Handayani diambil dari semboyan tut wuri handayani yang berarti memberikan dorongan dari belakang sehingga diharapkan saya selalu memiliki motivasi yang besar dari dalam diri saya. Semenjak itu saya fikir nama saya bukanlah sesuatu yang buruk dan saya menjadi bangga memiliki nama tersebut. Pernah suatu saat saya iseng mencari nama saya di buku sejarah SMP. Saya temukan ada sebuah frasa “ homines novi” yang berarti orang-orang yang memiliki pendidikan/cendikia. Saya jadi semakin menghargai nama yang telah diberikan oleh nenek dan kakek saya.
Sesuatu yang telah diberikan Tuhan kepada kita, saya yakini pasti merupakan sesuatu yang memang pantas kita dapatkan. Begitu juga dengan nama, mengapa mesti merasa tidak pantas, hal itu pasti adalah sebuah kepantasan. Jadi, menurut saya nama saya sudah pantas untuk merepresentasikan diri saya. Kalaupun dilihat dari segi arti, itu pun cocok, entah darimana asalnya saya selalu memiliki dorongan yang berasal dari dalam diri saya untuk selalu bangkit setelah jatuh. Kadang saya fikir dengan motivasi internal yang besar, sisi idealisme saya juga cukup tinggi, terkadang disaat semua orang melakukan hal yang sama, saya akan bertahan dengan idealisme saya sendiri yang saya anggap benar.
Walaupun memungkinkan sepertinya saya tidak ingin mengganti nama saya karena saya fikir hal tersebut akan mengubah kehidupan saya. Menurut saya nama juga mempengaruhi karakter seseorang sehingga bila saya mengganti nama saya maka hal tersebut akan mempengaruhi karakter saya juga. Sehingga saya tidak akan menjadi diri saya yang dulu lagi tetapi berubah menjadi seseorang yang baru. Karena biasanya nama diberikan kepada bayi yang baru lahir sehingga seseorang yang mengganti namanya akan seperti bayi yang baru lahir. Dan saya tidak mau menjadi bayi yang sudah dewasa.
Senin, 26 September 2011
Student Expectation and Response Toward Others

Humanistic study. When I see this course name in KAK, directly my mind asked what the course about. Is it about humanity or something else? Obviously, when it first meeting last Wednesday we have known if this course much discussed about individualism, multiculturalism, and religion.
From that background my expectation for this course are can be more understand to other individual and the important is to understand myself. Then I can more appreciate the differences which happen around because difference makes us rich. With more understanding about multiculturalism I hope in the future I can appreciate the differences which happen in my class and my environment so I can be fair to all students and more understanding their characteristic which is certainly influenced by their cultural background. Therefore, because we will discussed about religion I hope each of us can be more carefully when we express our opinion so, no one would be offended. And I hope this course can be fun, give much knowledge and make us more as one family.
Talking about multiculturalism, we don’t have to go far away, in SSE the students consist of various ethnic groups such as Javanese, Sundanese, Batak, Balinese, and so on. I remember when I have registration as a new student in SSE I went to mosque to praying then, I saw a group of sundanese student was talking with their own language. I was very confused, I felt like I was listening sundanese radio. I think it’s more appropriate if in public space like mosque all students use Indonesian language so no one will feel ignored and confused. When I was in junior High School my teachers who are from Batak ethics always use their language if they want to speak that they don’t want to other to know because in my school there is a gap between Muslim teacher and Batak teacher. So, I don’t want this condition happen in SSE.
The difference is beautiful because we can learn to understand other people. When first I have friends from Sumatera I shocked with their hard intonation. Firstly I think he/she was angry to me but then I remember if the stereotype about Sumatera people is have loud voice but in fact he/she just normally speak. After we know each other, sometimes I think if all prejudice of an ethnic is only stereotype because it is different, depend on their own personality for example people said if all padang people is stingy, all Javanese people is pleonastic but it just a stereotype in SSE. In fact, we are one big family and caring about each other. I hope this condition always like this. So, as student that comes from many ethnics the key I think is appreciate each other and understanding all people if we want all people understand us.
Sabtu, 30 Oktober 2010
Esensi pendidikan yang sebenarnya

Hhmmm,, dunia pendidikan memang dunia misteri yang sulit diungkapkan.
kenapa dibilang dunia misteri?
alasannya:
1. Berapa banyak orang berpendidikan tinggi yang sekarang masih menganggur banting tulang nyari kerjaan.
2. Orang berbondong-bondong menuju pendidikan yang tinggi hanya
untuk menyerahkan kemampuannya untuk si bos.
3. Berapa banyak sarjana pertanian yang berprofesi sebagai pegawai
bank?
4. Berapa banyak anak sma jurusan ipa kuliahnya di fakultas ekonomi atau mungkin hukum.
Dari fakta diatas, apakah anda bisa menemukan apa sih tujuan sekolah?
bingung? makanya dunia pendidikan layaknya dunia misteri, ga jelas.
Mungkin keanehan dunia pendidikan kita dimulai karena
paradigma lama, alias petuah leluhur kita yang dulu
dijajah kumpeni.
"nak, belajar yang pinter,,, biar nanti gampang cari kerja."
Dari kalimat tadi, ada dua tujuan yang bisa kita tangkap jelas:
1. Belajar biar pinter
2. Gampang cari kerja
2 hal ini jelas-jelas paradigma yang dibangun kaum penjajah biar kita bisa dimanfaatkan dengan mudah.
kenapa?
1. Biar PINTER,
jadi kita dididik biar pinter aja, otak kita penuh dengan pelajaran-pelajaran.
kita ga dididik jadi orang yang cerdas, penuh akal, karena penjajah takut kita justru bisa mengakali mereka.
kita ga dididik jadi orang yang kritis, tanggap, dan demokratis karena penjajah takut kita bisa memberontak seketika.
2. Cari kerja,
jadi kita dididik hanya untuk mencari pekerjaan,
bukan untuk menciptakan pekerjaan.
penjajah hanya ingin kita bekerja untuk mereka, bukan untuk kita sendiri.
penjajah takut kita lebih maju dari mereka.
So, kalau yang sampai saat ini masih menggunakan paradigma itu, maaf, ANDA MASIH HIDUP DALAM MASA PENJAJAHAN.
trus sekarang dah terlanjur begini, apa yang bisa kita lakukan??
gampang,
1. introspeksi diri, cari hal apa yang sering bikin kamu lupa makan, minum, tidur, bahkan bernafas.
apakah editing video? jadilah editor profesional.
ngerjain soal-soal akuntansi? jadilah dosen or akuntan publik handal.
nggambar-nggambar sotosop or corel? jadi desain grafis aja,,,
jangan takut untuk beralih ke segala hal yang kamu sukai, ketika kamu berjuang untuk sesuatu yang kamu suka, seberat apapun tantangannya
pasti akan kamu hadapi dengan senang hati.
2. fokus, jadikan hobimu sebagai fokus profesimu.
jangan takut kalau kamu nanti ga dapet kerja, kerjaan itu bisa dateng darimana aja. ketika kamu dah profesional di bidangmu,
pekerjaanlah yang akan mencarimu.
kalau hobimu mancing, profesionalah di bidang mancing, lalu tunggulah pengusaha-pengusaha kolam pemancingan yang akan datang berkonsultasi tentang kolam ikannya
atau pengusaha peralatan mancing yang meminta anda menjadi Kepala bidang research and development.
KALAU MASIH SD, SMP gmn?
1. kalau emang tujuannya agan mo cari kerja, ntar klo mo lanjut sekolah, jangan masuk SMA, pilih aja SMK.
2. kalau tujuan agan sekolah mo jadi ilmuwan, baru silahkan masuk SMA.
3. pilih jurusan yang emang agan suka, jangan lagi berpatokan dengan patokan yang konyol bahwa klo jurusan IPA buat yang pinter, IPS buat yang bodo.
saatnya kita tahu esensi pendidikan yang kita jalani saat ini,
jangan sampai kita hanya menghambur-hamburkan uang
untuk mengejar embel-embel SBI (Sekolah berstandar Internasional),
atau goodwill suatu universitas (yang penting UI/UGM),
bukan itu esensi pendidikan.
seharusnya dunia pendidikan membuat yang berada di dalamnya
menjadi insan yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan masyarakat.
bukan untuk menambah beban hidup orang tua
atau menambah beban negara.
Quote:
Cara belajar paling efektif adalah: Bekerja sambil belajar.
betapa banyak mahasiswa yang malas kalau suruh belajar?
itu karena ga ada motivasi lain untuk belajar, kecuali untuk lulus ujian.
lihat bedanya, seorang pegawai swasta yang sangat antusias
dalam mengikuti kursus brevet pajak walaupun begitu banyak
aturan pasal-pasal dan tarifnya.
mereka sangat antusias karena mereka merasa BUTUH pelajaran
itu untuk kehidupannya. kehidupan nyata-nya.
Di sini kita bisa lihat, dunia pendidikan seperti memiliki dunia sendiri dan tidak peduli dengan dunia nyata yang akan dihadapi oleh
almamaternya. ironis.
Tapi kalau bekerja dulu sambil belajar,
mana ada perusahaan yang mau nerima pegawai
yang belum tahu apa-apa, dan baru mau belajar nanti kalau dah kerja?
Hanya ada satu perusahaan yang mau nerima orang-orang kaya gitu.
yaitu perusahaanmu sendiri.
So jangan takut untuk memulai untuk membangun perusahaan sendiri.
jangan bayangkan perusahaan harus yang megah, punya kantor,
punya pegawai banyak, modal miliaran,,,,hmph,,
Coba liat dulu ke kaskus
awalnya bukankah kaskus ini didirikan hanya oleh 1 orang?
bang andrew...
Mungkin awalnya kaskus hanya memiliki kantor di satu kosan kecil
di amrik sana, sampai akhirnya sekarang punya kantor sendiri
dan jutaan member.
Mulailah dari yang kecil, lihat sekelilingmu,
disana banyak sekali peluang menanti.
Dari sesuatu yang kamu mulai itu,
bersiaplah untuk menjadi pribadi pembelajar,
yang tak sadar bahwa sebenarnya anda sedang belajar keras
untuk meningkatkan kualitas diri.
Nah, jadi harusnya apa donk yang dipelajari di sekolah
biar nyambung dengan dunia nyata?
Buang paradigma SEKOLAH TEMPAT MENIMBA ILMU.
Sekolah seharusnya tidak hanya untuk menimba ilmu,
tapi juga membangun sikap dan prilaku siswanya.
mungkin akan lebih bijak jika sekolah SD
tidak perlu memberikan pelajaran susunan pemerintahan,
hukum dan kewarganegaraan.
cukuplah mengenalkan siapa presiden kita yang harus kita hormati,
menyanyikan lagu-lagu nasioanal, memainkan alat-alat musik tradisional.
alangkah bijaksana jika SD hanya mengajarkan
hal-hal yang nyata-nyata dibutuhkan untuk anak-anak seusianya,
mereka butuh bermain, butuh berinteraksi dengan teman-temannya.
mereka tidak membutuhkan les matematika, les bhs inggris,
dan les-les lainnya.
biarkan si anak mengutarakan kenginginannya, kesukaannya,
berikan waktu yang cukup untuk mereka melakukan hobinya...
ketika sudah mulai beranjak dewasa,
saatnya dunia pendidikan memberikan arahan
untuk menjadi pribadi yang anggun,
tanamkan nilai-nilai kejujuran, integritas, kerjasama,
gotong-royong, pantang menyerah,
kreatif, kritis, atraktif....
sediakan ilmu-ilmu yang mereka butuhkan,
yang mereka tanyakan kepada gurunya.
pertanyaan yang mereka dapatkan sendiri dari observasi sederhana
dalam kehidupan mereka di rumah, bersama teman di lingkungannya,
ataupun di lingkungan sekolahnya,,
Quote:
jadikan sekolah tempat yang menyenangkan untuk berinteraksi, mencari dan menggali ilmu.
bukan menjadikan sekolah sebagai tempat untuk membuang uang, tenaga pikiran, hanya untuk mencari titel bekal mancari pekerjaan.
Source : Kaskus-the larges Indonesia Community
Rabu, 24 Maret 2010
GOTHIC
gothic (oleh orang jepang disebut GOSU) melanda jepang sejak diperkenalkan oleh band-band Visual Kei di era tahun 80-an, hingga kini. Saat itu, menjadi band Visual Kei adalah ‘syarat’ menjadi sebuah band rock yang sukses. Hingga banyak band Rock yang banyak banting setir menjadi band Visual Kei. Nama-nama band berbau Eropa pun bermunculan. Para fans kemudian berlomba-lomba memenuhi tempat hip di Jepang dengan kostum Ghotic dengan sebagai salah satu bentuk apresiasi. Hingga saat ini, komunitas Gothic di jepang tetap exist. Mereka sering kali berkumpul di yayogi. Tokyo Park setiap hari minggu untuk ghatering dan bersenang-senang.
Dress for Darkness
Di Jepang, style Gothic terasa lebih independent. Tidak ada aturan. Tidak mengkotak-kotakan style. Hal ini sesuai dengan jiwa andak muda Jepang yang bebas, kreatif, dan funky. Dandanan Gothic mereka seringkali di-mix dengan gaya lain seperti army, pirates, angelic, baroque, lolita dan mash banyak lagi. Style ini popular sejak Malice Mizer tampil dngan Gothic yang colorfull. Gothic yang tidak selalu identik dengan warna hitam.
Beberapa style Gothic yang popular di jepang antara lain sepatu platforms (berhak tinggi dan sol tebal). Pernak-pernik film nightmare before chrismast, Claudia look (dandanan seperti tokoh Claudia di film Interview With The Vampire), gaya bangsawan Perancis atau seragam tentara Eropa. Bercosplay mirip dengan kostum-kostum yang pernah di pakai Malice Mizer, makeup bernuansa hitam, merah, putih, buri, tanpa korset untuk menghindari kesan terlalu seksi, wajah pucat dengan makeup tebal. French Hearts dan aneka aksesoris salib, alat musik dengan hard casing peti mati, baju suster.
jika kamu ingin membuat baju gothic sendiri ada beberapa hal yang patut diperhatikan..
1. seperti apa image yg ingin kamu tampilkan (misalkan: gothic mix army, gothic baroque,dll)
2. manfaatkan penghias seperti pita, renda, bulu2, aksesoris bahan metal, bordir, patchwork, dll
3. perhatikan bentuk tubuh!! jika tubuh kurus tidak masalah menggunakan model layering (gaun yang bertumpuk dan mengembang). untuk tubuh berisi hindari model layering
4. jangan lupakan sepatu. pakailah sepatu pantofel.
5. sesuaikan bahan pakaian yang dipakai dengan acara yng kamu datangi
Accesoris
Salib/ cross adalah accesoris yang paling popular dipakai oleh para penggemar Gothic. Adapun aksesoris alternatif bagi yang keberatan menggunakan accesoris ini, mungkin bisa menggunakan accesoris tangkorak, accesoris bulu, sayap, tulisan kanji, bunga mawar, bintang, pita, rantai, bros, renda, accesoris silver, dan accesoris lainnya.
Hair Do
Banyak cara yang membuat rambut yang biasa menjadi berkesan dengan Gothic. Dapat memanfaatkan spray rambut warna-warni, wig, catok rambut, hair spray, blow, hair wax/ gel, mousse. Tergantung pada image yang ingin ditampilkan. Untuk penampilan yang feminim bisa menggunakan wig, catok, ataupun curly iron agar terkesan rambut ikal. Untuk penampilan maskulin atau boyish bisa mengguanakan wax, hair gel, dan hair spray. Tambahkan spray rambut warna warni jika ingin terlihat lebih colorfull. Role model: Gackt (Malize Mizer), kozi (Malice mizer), mana Moi Dix Mois).
Sumber: Animonster magazine edisi 102 september 2007
Dress for Darkness
Di Jepang, style Gothic terasa lebih independent. Tidak ada aturan. Tidak mengkotak-kotakan style. Hal ini sesuai dengan jiwa andak muda Jepang yang bebas, kreatif, dan funky. Dandanan Gothic mereka seringkali di-mix dengan gaya lain seperti army, pirates, angelic, baroque, lolita dan mash banyak lagi. Style ini popular sejak Malice Mizer tampil dngan Gothic yang colorfull. Gothic yang tidak selalu identik dengan warna hitam.
Beberapa style Gothic yang popular di jepang antara lain sepatu platforms (berhak tinggi dan sol tebal). Pernak-pernik film nightmare before chrismast, Claudia look (dandanan seperti tokoh Claudia di film Interview With The Vampire), gaya bangsawan Perancis atau seragam tentara Eropa. Bercosplay mirip dengan kostum-kostum yang pernah di pakai Malice Mizer, makeup bernuansa hitam, merah, putih, buri, tanpa korset untuk menghindari kesan terlalu seksi, wajah pucat dengan makeup tebal. French Hearts dan aneka aksesoris salib, alat musik dengan hard casing peti mati, baju suster.
jika kamu ingin membuat baju gothic sendiri ada beberapa hal yang patut diperhatikan..
1. seperti apa image yg ingin kamu tampilkan (misalkan: gothic mix army, gothic baroque,dll)
2. manfaatkan penghias seperti pita, renda, bulu2, aksesoris bahan metal, bordir, patchwork, dll
3. perhatikan bentuk tubuh!! jika tubuh kurus tidak masalah menggunakan model layering (gaun yang bertumpuk dan mengembang). untuk tubuh berisi hindari model layering
4. jangan lupakan sepatu. pakailah sepatu pantofel.
5. sesuaikan bahan pakaian yang dipakai dengan acara yng kamu datangi
Accesoris
Salib/ cross adalah accesoris yang paling popular dipakai oleh para penggemar Gothic. Adapun aksesoris alternatif bagi yang keberatan menggunakan accesoris ini, mungkin bisa menggunakan accesoris tangkorak, accesoris bulu, sayap, tulisan kanji, bunga mawar, bintang, pita, rantai, bros, renda, accesoris silver, dan accesoris lainnya.
Hair Do
Banyak cara yang membuat rambut yang biasa menjadi berkesan dengan Gothic. Dapat memanfaatkan spray rambut warna-warni, wig, catok rambut, hair spray, blow, hair wax/ gel, mousse. Tergantung pada image yang ingin ditampilkan. Untuk penampilan yang feminim bisa menggunakan wig, catok, ataupun curly iron agar terkesan rambut ikal. Untuk penampilan maskulin atau boyish bisa mengguanakan wax, hair gel, dan hair spray. Tambahkan spray rambut warna warni jika ingin terlihat lebih colorfull. Role model: Gackt (Malize Mizer), kozi (Malice mizer), mana Moi Dix Mois).
Sumber: Animonster magazine edisi 102 september 2007
Langganan:
Komentar (Atom)